ndalem kasoempenan

Kendaraan ibu tidak dijual!

December 29, 2006 · Leave a Comment

kendaraan ibu sangat tua, yamaha merah 75.

saya sempat membenci kendaraan ini. soalnya, kendaraan ini sering mogok, sering susah distater, dan kuno. makanya, saya tak pernah mau mengendarainya. alih-alih mengendarainya, bahkan saya kadang malu memboncengnya.

tapi, hanya itu dan honda yang kami punya. tak ada mobil, apalagi helikopter. esti kemudian membeli honda seri tahunnya yang lebih baru. namun, ayah dan ibu cukup bangga dan tak malu mengendarai kendaraan butut yamaha 75.

kendaraan itu sempat dioprek oleh kris, adik ipar ibu yang jahat itu. namun, tangan terampilnyaberhasil membuat yamaha 75 tampil lebih ramping dan apik. meski demikian, saya tetap ogah menggunakannya.

hingga ibu jatuh sakit, ibu masih tak bisa menikmati kendaraan barunya. jadinya, motor lawas itu dikendarai ayah saja. ayah juga mantab bila melenggang di jalaan dengan kendaraan ibu.

dus, itu menjadi kendaraan kelangenan ibu yang terus dirawat ayah.

namun, ayah pernah hendak melegonya, tanpa sepengathuan saya. dus, saya langsung melapoor ke esti dan ini membuat esti marah besar. “ibu nggak bisa lihat saya menjadi master! hanya kendaraan itu yang menjadi kelangenan ibu! jadi, biarkan kendaraan itu yang melihat saat ini esti sudah jadi master!!!!” ujar esti, sembari menangis terisak.

ayah kemudian membatalkan penjualan yamaha 75 itu. sampai ayah meninggal, kendaraan itu masih mangkrak di garasi belakang.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Belajar bercocok tanam

December 29, 2006 · Leave a Comment

saya sedang senang berkebun.

kebun ayah memang tak begitu luas. hanya sepetak-sepetak-sepetak saja. tapi, rumah menjadi cukup hijau dan segar dengan tanaman yang ditanam ayah.

semasa ayah masih hidup, saya hampir tidak pernah membantu ayah berkebun. kalaupun iya, paling memberesi pohon belimbing. atau, menegor pohon pepaya. atau, membuang sampah. kalau harus bergumul dengan tanah, uhm, no thanks.

nah, tadi saya membungkus sepuluh tanaman kebun seharga Rp 30 ribu. jauh-jauh membelinya, saya membungkusnya dari nursery di bilangan mlati, sleman. bayangkan jauhnya. bayangkan bagaiman saya harus otongeongbabimati mengusung sepuluh tanaman besar-besar. waks.

saya juga membeli media tanam yang bisa dicocokkan dengan tanaman kebun itu. saya ingat persis, teman saya yang bekerja di penerbitan buku-buku pertanian, mengingatkan saya soal tanah yang tak melulu subur. banyak cacing. banyak bebatuan. dus, saya harus menambahi tanah itu dengan pupuk atau sebaran media tanam yang layak. maka, saya membeli dua media tanam di toko pertanian di jalan magelang.

saya ‘mencangkuli’ tanah di rumah kecil dengan cethok. duh, sakit sekali tangan saya. sampai pegal dan mengeras. hehe … nah, saya harap kepulangan saya minggu depan, ayah sudah siap tersenyum soalnya anak bungsunya sudah mulai bisa bercocok tanam.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Meja setrika itu tetap saja besar

December 21, 2006 · Leave a Comment

dulu, ibu yang paling sering duduk di depan meja besar itu.

meja itu bikinan ayah. terbuat dari kerangka besi yang kokoh. kemudian, ada papan kayu yang besar untuk ditumpangi baju-baju. iya, itu meja setrika.

ibu paling tidak betah setrika dengan cara berdiri. jadi, sambil duduk dan menciprat2kan air agar baju menjadi lebih licin, ibu menyetrika lama banget. saya tidak suka setrika sambil duduk, karena menurut saja justru lebih capek.

suatu hari, setelah diputus pasangan saya, saya menangis di sebelah ibu. saat itu, ibu sedang setrika. dengan bijaknya, ibu berpesan bahwa lelaki bukan hanya dia saja. masih banyak yang lebih baik dari lelaki bangsat itu. hhe …

usai ibu meninggal, ayah yang menggantikan duduk di meja strika itu. iya, ayah menyetrika baju-bajunya, bahkan baju2 saya. ayah dengan sabar, sembari menyetel radio kecil sony miliknya. lipatan baju dari hasil setrika ayah lebih kecil ketimbang lipatan baju ibu. dus, itu yang membikin lemarinya tampak lebih mumbul keatas.

sekarang, giliran saya yang setrika disana.  diatas meja yang cukupbesar.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Ada yang bisa menjahit?

December 13, 2006 · Leave a Comment

turun temurun, keluarga ibu adalah keluarga penjahit.

konon, pesan mbahkung adalah semua anaknya sebisa mungkin punya ketrampilan menjahit. jadi, bila suatu hari tidak punya pekerjaan, menjahit bisa menjadi pegangan hidup. dus, inilah yang diamini oleh 10 dari 12 anak mbahkung.

ibu saya memang pintar menjahit. mau menjahit apaaaa saja, bisa. dari yang sederhana hingga yang ruwet, ibu saya bisaaaa! two thumbs up untuk ibu.

dan biasanya, kalau ibu hendak menghadiri hajatan khusus, ibu biasanya membikin baju baru. tapi, karena harus beraktivitas yang lain, saat hari h itu datang, pakaian yang hendak dikenakan ibu belum 100% jadi. kurang di tisik lah, kurang ini lah … toh, ibu tetap mengenakannya dengan menyembunyikan bagian yang belum sempurna itu.

esti yang paling seneng ngoprak-oprak ibu agar dibikinkan baju baru dan harus cepat selesai. kadang ibu mengeluh, ada banyak pekerjaan lain yang juga harus dibereskan seperti memasak, mencuci, mengunjung mbahti dll. padahal, esti juga paling malas kalau harus mencuci, memasak, mengunjungi mbahti. hingga suatu hari, saya melihat ibu menitikkan air mata saking banyaknya pekerjaan yang harus ia rampungkan, dan masih ditambah lagi jahitan pakaian esti.

saya pernah memiliki niatan kecil untuk bisa menjahit. niat itu saya sampaikan pada ibu. ibu sih seneng-seneng saja. soalnya, ayah dan ibu tak pernah memaksa dan emngharuskan kedua anaknya bisa menjahit. maka, bila saya ingin bisa menjahit, waaa … mereka bahagia banget.

saya belajar membikin celana pendek.saat itu, ibu yang membikinkan ukurannya, memotongkannya. jadi, saya yang bertugas untuk menjahit saja dengan perintah harus begini harus begitu. dan dua potong celana berwarna kotak2 hijau dan kembang2 oranye pun siap dipakai. sayangnya, setelahnya saya lupa belajar untuk mengukur kain, dan memotong. hahaha …

ya sudah, hingga saat ini, aya hanya punya keahlian membikin cempal dan tas yang supergampang saja.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Ayah suka bersepeda

December 9, 2006 · Leave a Comment

hadiah ulang tahun ayah: sepeda baru.

ayah memilih sepeda yang harganya sekitar Rp 2 juta. sepeda merek polygon itu memiliki spek yang cukup bagus. yaitu, ada setelan persneling, stang lurus, sadel njengking dan warna yang tak norak.

sejak memiliki sepeda itu, ayah gemar bersepda setiap pagi. kadang kerumah kakak di tamansiswo sambil memawakan galundeng. kadang sampai ke kawasan THR. ada sekitar satu-dua jam ayah bersepeda setiap pagi.

ayah menjadi sehat. menjadi bugar. kostumnya pun tak ruwet sepetri layaknya pembalap sepeeda. hanya celana pendek, sepatu bata yang tanpa tali dan tanpa kaos kaki, dan kaos. kemudian, ayah membikin penampilannya menjadi lebih sempurna dengan topi.

suatu hari ada acara sepeda gembira di gereja. ayah keukeuh ingin bersepeda. aka, saya pun mengantarkannya untuk mendaftarkan diri. ayah kemudian mendapatkan kaos. kalau tidak salah ingat, itu adalah ulang tahun emas gereja kumetiran. dan usai acara, ternyata sisa kaos masih cukup banyak. ayah pun membeli sisa kaos itu untuk dikenalan di rumah.

ayah juga bersepeda bia membeli makanan di deket rumah. tapi, aktivitas bersepeda itu dihentikan seiring rasa sakit yang muncul dari anus. yups, itu pula yang kemudian merenggut nyawanya.

ayah, di surga ada sepeda tidak? atau … malah langsung terbang begitu saja?  

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Belajar bercocok tanam

December 3, 2006 · Leave a Comment

saya sedang senang berkebun.

kebun ayah memang tak begitu luas. hanya sepetak-sepetak-sepetak saja. tapi, rumah menjadi cukup hijau dan segar dengan tanaman yang ditanam ayah.

semasa ayah masih hidup, saya hampir tidak pernah membantu ayah berkebun. kalaupun iya, paling memberesi pohon belimbing. atau, menegor pohon pepaya. atau, membuang sampah. kalau harus bergumul dengan tanah, uhm, no thanks.

nah, tadi saya membungkus sepuluh tanaman kebun seharga Rp 30 ribu. jauh-jauh membelinya, saya membungkusnya dari nursery di bilangan mlati, sleman. bayangkan jauhnya. bayangkan bagaiman saya harus otongeongbabimati mengusung sepuluh tanaman besar-besar. waks.

saya juga membeli media tanam yang bisa dicocokkan dengan tanaman kebun itu. saya ingat persis, teman saya yang bekerja di penerbitan buku-buku pertanian, mengingatkan saya soal tanah yang tak melulu subur. banyak cacing. banyak bebatuan. dus, saya harus menambahi tanah itu dengan pupuk atau sebaran media tanam yang layak. maka, saya membeli dua media tanam di toko pertanian di jalan magelang.

saya ‘mencangkuli’ tanah di rumah kecil dengan cethok. duh, sakit sekali tangan saya. sampai pegal dan mengeras. hehe … nah, saya harap kepulangan saya minggu depan, ayah sudah siap tersenyum soalnya anak bungsunya sudah mulai bisa bercocok tanam.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Secuil kebun di rumah

November 25, 2006 · Leave a Comment

dulu, ayah punya tanah yang cukup lapang.

saya tidak tahu persis berapa luasnya. tetapi 100% tanah itu adalah tanah, tanpa konblok secuilpun. tetapi sejak ibu dan ayah mulai kesulitan menuntun kendaraan roda dua di garasi belakang, ayah menyulap lahannya menjadi berkonblok.

padahal, kalau dihitung alami-alamian, alamian yang dulu doong! bayangkana rumah berkerakal dengan pijakan sepetak demi  sepetak. melompati satu demi satu. mencoba agar tidak terjatuh. kecipak air yang bertabrakan dengan kerakal sangat khas di telinga bila musim hujan tiba. duh!

memang, konblokan di pekarangan depan membuat segala jalan menjadi lebih lapang dan lega. terutama, untuk bulik, bude dan ayah yang sudah usia kakek-kakek dan nenek-nenek.

sisanya, di bagian samping rumah cilik dan di bagian dalam rumah cilik, serta di belakang kamar mandi, ayah masih menyisakan tanah untuk ditanami dengan tanaman tetean, makuta dewa, tanaman merambat, dan masih banyak lagi.

ayah memang gemar berkebun sejak dulu. kegemaran ini semakin menjadi-jadi saat pensiun tiba dan tak ada kesibukan lain di sore hari atau pagi hari selain … berkebun!

saya sendiri ogah berkebun. mm, capek kali ya. tapi, kesukaan ayah ini ternyata menitis pada saya. sepeninggal ayah, saya justru getol berkebun usai tiba di jogja. mbabati tetean dan mengganti tanaman lama dengan yang baru. rasanya … stress saya berkurang.

seperti siang tadi. saya membeli tanaman berdaun kecil –saya tidak tahu namanya apa— seharga masing-masing Rp 3000. saya membeli sepuluh untuk saya biakkan di rumah cilik. nanti, kalau ini berhasil, saya akan membeli yang lain untuk menggenapi dan memenuhinya hingga penuh.

kalau semuanya sudah penuh, saya akan mengganti kebun bagian depan rumah. setelah itu, belakang kamar mandi. dan … horray! semuanya akan terpenuhi dengan hutan alami!

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Jam yang selalu berdentang

October 8, 2006 · Leave a Comment

setiap lima belas menit, jam ini selalu berdentang. 

bunyinya semakin ke kanan semakin bertambah lama. misalnya, bunyi jam 12.15, maka bunyinya hanya ting tong teng tong … sedangkan jam 12.30, bunyinya ting tong teng tong, tong teng ting tong. bunyi jam pukul 12.45 seperti ini, ting tong teng tong, tong teng ting tong, tong ting teng tong … dan jam 1 tepat, bunyinya sangat panjang. ting tong teng tong, tong teng ting tong, tong ting teng tong, tong ting teng tong, tong teng ting tong. toooooonnnnggg …

jam dinding itu sudah ada sejak kepindahan kami ke rumah bumijo di tahun 1988. konon, kata ayah, jam itu peninggalan mbah kung dan mbah ti. sayangnya, usia tuanya tak mau menunggui  kelahiran saya. dus, sejak saya lahir, jam itu sudah ada lebih dulu ketimbang saya.

setiap hari, jam itu harus diputar. bisa satu hingga dua kali dalam sehari, ayah harus memutar jam itu. pokoknya c spasi d deh, alias capeeekkkk deeeeeehhhh … dus, jam itu selalu meminta perhatian ekstra dari seisi rumah. mulai dari dentangannya yang menggema, hingga kemanjaannya pada seisi rumah untuk diputar bila mati. di dalam jam itu, ayah menyimpan dua buah anak kunci yang digunakan khusus untuk memutar jam bila mati. ada tiga lubang yang harus dikayuh untuk menghidupkan kembali dentangan jam itu. bila mati, maka ketiga lubang itu harus dimasuki kunci untuk diputar searah jarum jam.

saya masih ingat persis saat jam itu belum ditempelkan di dinding. berat banget. tapi, bisa jadi berat itu saya rasakan lantaran saya masih kecil saat itu. tapi dari raut muka ayah mengabarkan bahwa jam itu memang berat sekali. maklum, jam jaman baheula. beratnya super duper berat deh.

ayah menyangganya dengan dua buah siku yang ditempelkan di dinding. tujuannya, agar jam itu tak langsung berdebum bila jatuh. kekuatan siku dipercaya cukup ampuh untuk menyangga jam tua itu. tapi, sesekali derit decit jam masih sering terdengar. jadinya, ngeri banget kalau lagi berada di bawahnya. takut kejatuhan.

saya sangat cinta jam itu. saya tidak ingin menggantinya dengan yaing lain, meski itu lebih mahal atau lebih bagus. Mmm … saya jadi ingat, saya menangis saat bercerita dalam homili ibadat 100 hari ayah saya meninggal. saya bercerita mengenai ayah saya yang dengan   s a b a r   dan  s e t i a  memutar jam dinding itu setiap hari saat jam itu mati.  bahkan, hingga hari terakhir ayah berada di rumah, ayah masih memutar jam itu. dan saat bumi menari di ujung Mei lalu, ayah juga masih sempat menanyakan apakah jam itu jatuh atau tidak.

jam, dengarlah, kami sangat menyayangimu. kini, biarkan saya memutarmu bila tiba di Jogja di ujung minggu ya. 

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Belum sempat pakai teken

October 4, 2006 · Leave a Comment

 

ayah adalah orang yang sangat well-prepared.

misalnya, mau mengajar anak-anak kelas satu sekolah dasar saja, beliau akan menyiapkannya sehari sebelumnya. membolak-balik materi, memilih handout yang cocok, menggandakan beberapa lembar sebagai cadangan, dan meltakkannya dalam sebuah map besar.

untuk orang lain saja ayah sangat perhatian, apalagi untuk dirinya sendiri.

hingga suatu hari yayuk mengajaknya ke Mirota Batik. tak disangka, ayah meminta satu buah teken (mmm … apa bahasa indonesianya ya? barangkali, tongkat!). harganya tak lebih darp Rp 25 ribu sebuah. harga yang murah untuk sebuah teken yang telah di furnish bagus seperti itu, rasanya tak terlalu sayang. konon, kata ayah, teken itu adlah untuk persiapannya di hari tua kelak. jadi, kalau sudah tak bisa jalan, ayah bisa pake teken itu. maka, yayuk membungkus pulang satu buah teken itu.

pulang dari Mirota Batik, ayah dan yayuk mampir ke toko penganan lawas di bilangan mijilan. konon, ayah ‘berpura-pura’ sudah pake teken. berjalan pun dibuat-buat, sperti sudah renta sepuh  sekali.  ayah berjalan pincang, seolah tulang tuanya tak lagi mampu menyangga badannya. padahal, itu hanya gara-gara efek tongkat yang dipegang dan dijejakkannya ke tanah.

dari kejauhan tempat ayah berdiri di warung itu, saat yayuk menawari sekantong penganan. lucunya, sontak ayah langsung mengangkat tongkat, ngacir, setengah lari ke arah yayuk. nah lo, aksi jalan terbungkuknya mana, ayah?

seiring berjalannya waktu, ayah belum juga menggunakan tongkat itu. seorang temannya, pak timbul, terkena stroke. berjalan harus merambat pada dinding dan apa saja yang bisa diraih. mengajak saya, ayah kemudian memberikan teken tua-nya untuk pak timbul. harapannya, pak timbul bisa lekas pulih dengan berlatih berjalan menggunakan teken dari ayah.

saat berjalan-jalan ke mirota batik lagi, —kali ini bersama saya—  ayah minta dibelikan teken lagi. oh, with pleasure, ayah!

hingga ayah masuk rumah sakit Mei lalu, tongkat itu juga belum digunakan. tulang dan persendian yang berusia 78 tahun itu ternyata masih bisa menyangg tubuhnya. jadi, belum perlu menggunakan tongkat. lha wong jalan di peziarahan yang berundak-undak dan medan yang sulit pun ditempuh ayah dengan lenggangan tangan, mosok mau jalan biasa aja pake teken. nggak dong!

teken itu kemudian digunakan untuk membangunkan saya di rumah sakit, saat menunggui ayah yang sakit. ayah yang ada di atas ranjang dan saya yang ada di lantai, mau tak mau ayah harus meraih saya dengan teken. maksutnya, biar mbangunin saya mantab lantaran saya susah dibangunkan.

sampai ayah meninggal, teken itu belum lagi digunakan ayah. lihat, masih saya gantung di depan kamar ayah.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized