kendaraan ibu sangat tua, yamaha merah 75.
saya sempat membenci kendaraan ini. soalnya, kendaraan ini sering mogok, sering susah distater, dan kuno. makanya, saya tak pernah mau mengendarainya. alih-alih mengendarainya, bahkan saya kadang malu memboncengnya.
tapi, hanya itu dan honda yang kami punya. tak ada mobil, apalagi helikopter. esti kemudian membeli honda seri tahunnya yang lebih baru. namun, ayah dan ibu cukup bangga dan tak malu mengendarai kendaraan butut yamaha 75.
kendaraan itu sempat dioprek oleh kris, adik ipar ibu yang jahat itu. namun, tangan terampilnyaberhasil membuat yamaha 75 tampil lebih ramping dan apik. meski demikian, saya tetap ogah menggunakannya.
hingga ibu jatuh sakit, ibu masih tak bisa menikmati kendaraan barunya. jadinya, motor lawas itu dikendarai ayah saja. ayah juga mantab bila melenggang di jalaan dengan kendaraan ibu.
dus, itu menjadi kendaraan kelangenan ibu yang terus dirawat ayah.
namun, ayah pernah hendak melegonya, tanpa sepengathuan saya. dus, saya langsung melapoor ke esti dan ini membuat esti marah besar. “ibu nggak bisa lihat saya menjadi master! hanya kendaraan itu yang menjadi kelangenan ibu! jadi, biarkan kendaraan itu yang melihat saat ini esti sudah jadi master!!!!” ujar esti, sembari menangis terisak.
ayah kemudian membatalkan penjualan yamaha 75 itu. sampai ayah meninggal, kendaraan itu masih mangkrak di garasi belakang.